Site icon Berita Burung

Hidup di Jakarta 2021-2022 | antara Kebutuhan Atau Gaya!

Beritaburung – Hidup di Jakarta, 2021-2022 Munculnya aplikasi pinjaman online membuat hidup Gio (43) berubah drastis. Bukan karena terlilit utang, tapi pekerjaan Gio sebagai sales kartu kredit tak lagi menghasilkan. Target bulanan tak pernah dia penuhi. Bonus pun tak cair.

Sejak 2018, Gio beralih profesi menjadi pengemudi ojek online. Hidup di Jakarta Dari penghasilan belasan juta per bulan saat menjadi sales kartu kredit, kini tiap hari dia cuma bisa mengantongi rata-rata Rp150 ribu.

“Kalau hoki bisa Rp300 ribu, itu pun kita udah banting tulang banget,” kata Gio dalam perbincangan dengan merdeka.com pertengahan Juli lalu.

Biaya Hidup di Jakarta

Hidup di Jakarta Gio bercerita, dia bekerja sebagai sales kartu kredit di salah satu bank swasta di kawasan Sudirman, Jakarta dari tahun 2003 sampai 2018. Bersama timnya yang berjumlah 5 orang, ada jumlah nasabah baru yang harus dia kejar setiap bulan. Jika target tercapai, penghasilan Gio bisa mencapai Rp15 juta. Gaji pokoknya saat itu cuma Rp3 juta.

Sekitar tahun 2017, muncul berbagai aplikasi pinjaman online (pinjol). Sejak itu Gio kesulitan mendapatkan nasabah baru yang tertarik untuk membuat kartu kredit. Persaingan semakin ketat dan sulit. “Kalau kartu kredit kan pakai kartu.

Kalau aplikasi kan simple, data KTP cukup dikirim online, limit besar walaupun bunga gede, tidak ribet administrasi,” ujarnya.

“Jadi HRD-nya kita beli makan atau beli apapun lah agar ini jebol,” ujarnya.

Sebagai sales marketing di Ibu Kota, Gio merasakan kebutuhan hidupnya cukup tinggi. Salah satunya adalah biaya entertainment untuk mendapatkan nasabah. Gio biasa menyasar pengguna baru di kalangan korporat. Dia mendekati bagian HRD agar karyawan di suatu perusahaan bisa dibujuk untuk menggunakan kartu kredit dari bank yang dia tawarkan.

“Ini contoh, misalnya kita yakin akan dapat 20 jutaan di situ. Bagaimana caranya kita mendapatkan Rp20 juta itu, mau enggak mau kita harus mengeluarkan uang dulu sekitar Rp5 juta. Itu kita belikan apapun untuk HRD, segala macam. Jadi kita kasih hiburan dulu buat mereka,” tuturnya.

Saat targetnya tembus, Gio pun harus mengeluarkan uang lagi. Biasanya dia bersama timnya karaoke bareng, atau jalan-jalan bersama ke suatu tempat. Mengenang masa jaya-jayanya, Gio mengaku bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk bersenang-senang. Ditambah, statusnya saat itu belum menikah.

“Tapi sekarang sudah berkeluarga, sudah enggak, kondisi saat ini sudah sulit apalagi jadi ojol. Jadi pikiran untuk keluarga. Ya namanya masih bujangan ya, hahaha. Gaji itu mengikuti kerja keras kita. Dulu mah gampang,” tukas warga Tanah Abang itu.

BacaJuga : Wajib Paham Mengenai Ketidaksamaan Router dan Modem yang Harus Dijumpai

Lingkungan Kerja Pengaruhi Gaya Hidup

Hidup di Jakarta Jojo (45) merasakan betul perubahan gaya hidup di tempat kerjanya saat ini. Meski begitu, karyawan bank di kawasan Sudirman, Jakarta itu berupaya menekan pengeluaran bulanannya untuk hal-hal yang tidak penting.

Hidup di Jakarta Bekerja di bidang perbankan sejak tahun 2004, gaji awal yang diterima Jojo mengikuti UMR sekitar Rp3 jutaan. Setiap selesai bekerja, Jojo langsung pulang ke rumahnya di Bekasi. Dia termasuk karyawan yang kurang bergaul, tak pernah nongkrong-nongkrong di kafe atau mal.

“Pulang kerja, mainnya bukan sama teman-teman kantor, Hidup di Jakarta  justru main sama teman-teman kampus karena waktu masih zaman awal kerja ya,” ujarnya kepada merdeka.com.

Perubahan dia rasakan saat pindah ke tempat baru. Rekan-rekan kerjanya hampir semua minum kopi bermerek semacam Starbucks. Jojo yang sebelumnya tidak suka minum kopi, ikut-ikutan. Saat rapat bersama timnya, rekan-rekannya biasa memesan kopi yang mahal.

“Jadi seperti sudah gaya hidup berubah, kita jadi ikut. Dulu enggak ada yang doyan ngopi. Karena kita meeting di situ, kalau kita mau sarapan ke bawah akhirnya kita beli kopi. Itu kan karena lingkungan sih sebenarnya,” ujarnya.

lingkungan yang paling mempengaruhi gaya hidup

Sadar gaya hidupnya berubah, Jojo mencari alternatif agar pengeluarannya tidak boros. “Saya sih lebih memilih kopi yang murah ya seperti Kopi Kenangan. Kalau yang Starbucks, pusing kita, sekali ngopi bisa sampai Rp50 ribuan. Repot kalau kita ikutin yang itu,” tuturnya.

Jojo mengakui, faktor lingkungan yang paling mempengaruhi gaya hidup. Saat di rumah, dia tidak memilih-milih makanan. Apapun makanan yang tersedia dia makan. “Yang agak susah saat ketemu teman-teman terus pulangnya makan dulu, ngajak ngopi dulu, seperti itulah yang di luar budget yang enggak seharusnya di luar dugaan,” ujarnya.

Satu hal yang penting kata Jojo, dia tidak terpengaruh gengsi dalam pergaulan. Jika memang tidak punya duit, dia tidak harus ikut makan ke tempat yang mahal Hidup di Jakarta. “Jadi kalau dibilangin gengsi enggak. Tapi memang karena lingkungan, semua orang itu jadi nongkrong ke sana, dari mulai bos atau satu tim ke sana,” ujarnya.

kenaikan penghasilan yang di dapatkan

Sementara Rosi (38), seorang project manager perusahaan di kawasan Selatan Jakarta mengaku, Hidup di Jakarta kenaikan penghasilan yang dia dapatkan turut mempengaruhi gaya hidup. Seperti Jojo, Rosi mengakui lingkungan kerja juga menjadi faktor pemicu.

“Misalnya dulu masih gaji kecil, beli lipstik yang murah, atau beli sepatu atau tas yang murah. Gaji naik ya beli lipstik atau tas atau pakaian yang bermerek. Sebenarnya bukan gaya-gayaan, cuma itu tadi lingkungan yang membuat kita demikian,” ucap Rosi.

Rosi menambahkan, Hidup di Jakarta keinginan untuk tampil bergaya dengan barang bermerek pasti ada di setiap orang. Apalagi perempuan, harga make up pun mengikuti kenaikan gaji yang dia dapatkan. Tapi bagi Rosi, membeli barang-barang itu tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan kerja.

“Gaji naik pasti ada rasa ingin mencoba produk yang bermerek. Dan saya yakin semua cewek pasti begitu. Misalnya gaji kecil beli lipstik yang murah. Gaji naik atau gede pengen beli lipstik yang bagus, terus beli bedak yang bagus. Pakaian juga begitu.

Terus beli handphone mau yang bagus. Ya mungkin bisa dibilang enggak mau kalah sama teman, tapi menurut saya itu lebih kepada kebutuhan dan penunjang kerja,” tuturnya.

Exit mobile version